Zakat Penghasilan/Profesi/Gaji

a.      Zakat penghasilan (Profesi)

1)          Makna harta penghasilan (harta hasil profesi)

Beberapa dekade yang lalu, topik ini tidaklah mengemuka seperti sekarang. Adalah Syaikh Yusuf Qardhawi, salah seorang yang kemudian mengangkatnya kembali dengan tujuan untuk menentukan pijakan hukumnya yang lebih jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah kemudian menuangkannya dalam sebuah buku tentang Fiqh Zakat.

Beliau menyatakan bahwa diantara permasalahan zakat yang paling penting untuk dibahas saat ini dan memerlukan perhatian penuh kaum Muslimin adalah tentang zakat penghasilan atau zakat profesi. Penghasilan yang dimaksud adalah penghasilan melalui keahlian yang dimilikinya baik dilakukan secara individu maupun secara bersama-sama. Yang dilakukan secara individu seperti profesi dokter, ahli hukum, penjahit, arsitek, mungkin juga da’I atau mubaligh. Sedangkan keahlian yang menghasilkan dan dilakukan secara bersama-sama, seperti pegawai swasta maupun pemerintah yang mendapatkan gaji dalam waktu yang relative tetap, misalnya sebulan sekali. Penghasilan atau pendapatan yang semacam ini dalam istilah fiqh dikatakan sebagai al-maal al-mustafaad.[1]

Barangkali pembuat syariat mempunyai maksud tertentu dalam  menentukan  nisab  tanaman  kecil, bisa jadi karena tanaman  merupakan penentu kehidupan manusia. Yang paling penting dari besar nisab tersebut adalah bahwa nisab uang diukur dari nisab tersebut yang telah kita tetapkan sebesar nilai 85gram emas. Besar itu sama dengan dua puluh misqal hasil pertanian yang disebutkan oleh banyak hadis. Banyak orang memperoleh gaji dan pendapatan dalam bentuk uang, maka yang   paling   baik adalah menetapkan nisab gaji itu berdasarkan nisab uang.

 

2)          Nishab, haul, kadar dan perhitungan zakat penghasilan (profesi)

Terdapat dua pandangan utama tentang nishab, haul, dan cara perhitungan terhadap zakat profesi, tergantung dari penggunaan qiyas atau analoginya. Namun demikian, saat ini tidak lagi dijumpai perbedaan pendapat atas kewajiban mengeluarkan zakatnya.

Analogi pertama, zakat profesi disamakan dengan zakat perdagangan dan atau zakat emas-perak. Maka nishab dan haulnya mengikuti yang berlaku pada zakat perdagangan dan sama pula dengan zakat emas dan perak, yaitu 85 gram emas, dan kadarnya yang wajib dizakatkan adalah 2,5% dan dikeluarkan setahun sekali setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Sehingga jika Anda berpenghasilan Rp. 10 juta sebulan, dan kebutuhan pokok (non-konsumtif, seperti cicilan mobil mewah, dan lainnya) Anda sekeluarga adalah Rp. 5 juta sebulan, maka besarnya zakat yang harus Anda keluarkan adalah:

{(10jt-5jt)*12*2.5}:100 = 1.5jt

Rp. 1,5 juta setiap tahun, atau Rp. 125 ribu setiap bulan.

 

Analogi kedua adalah menyerupakan zakat profesi dengan zakat pertanian. Syaikh Muhammad Ghazali lebih cenderung untuk menganalogikan zakat profesi dengan zakat pertanian. Beliau berpendapat bahwa jika seseorang yang memiliki pendapatan tidak kurang dari pendapatan seorang petani yang wajib mengeluarkan zakat, maka orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya. Artinya, seseorang yang memiliki pendapatan setara dengan lima wasaq (50 kail Mesir) atau 653 kilogram padi atau gandum, maka ia wajib berzakat. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi[2], ini adalah pendapat yang benar.

Besar kadarnya adalah 5 %, dan dibayarkan setiap mendapatkan gaji atau penghasilan, misalnya sebulan sekali. Sehingga, jika Anda berpenghasilan Rp. 10 juta sebulan, dan kebutuhan pokok (non-konsumtif, seperti cicilan mobil mewah, dan lainnya) Anda sekeluarga adalah Rp. 5 juta sebulan, maka besarnya zakat yang harus Anda keluarkan adalah:

{(10jt-5jt)*5}:100 = 250ribu

Rp. 250 ribu setiap bulan.

 

Profesor Didin Hafidhuddin[3] berpendapat bahwa zakat profesi dapat dianalogikan pada zakat pertanian dan zakat emas-perak sekaligus. Zakat pertanian diambil untuk menganalogikan dari sisi nishab, sedangkan zakat emas-perak diambil untuk menganalogikan dari sisi kadarnya.

Karena dianalogikan pada zakat pertanian, maka tidak ada haul pada zakat profesi. Ketentuan waktu membayarkannya adalah pada saat menerima, misalnya setiap bulan. Bisa juga didasarkan pada adat atau kebiasaan yang berlaku ditempatnya bekerja atau peraturan dalam suatu Negara.

Penganalogian zakat profesi dengan zakat pertanian dilakukan karena ada kemiripan antara keduanya. Jika hasil panen pertanian pada setiap musim berdiri sendiri, tidak terkait pada hasil panen musim sebelumnya, begitu pula yang terjadi pada gaji atau upah yang diterima, tidak tergantung dengan gaji atau upah bulan sebelumnya. Hal ini berbeda dengan perdagangan yang penerimaannya terkait antara bulan pertama dengan bulan kedua, dan seterusnya sampai dengan jangka waktu tertentu atau waktu tutup buku. Dan oleh karena dianalogikan dengan zakat pertanian, maka yang diambil zakatnya adalah dari pendapatan bruto (sesaat setelah menerima dan belum dikurangi oleh pengeluaran-pengeluaran yang lain) dan bukan pendapatan bersih (net income).

Dari sisi kadar zakat, dianalogikan pada zakat uang, karena memang gaji atau upah (honorarium, dan yang sejenisnya) tersebut dibayarkan dalam bentuk uang. Oleh karena itu, kadar zakatnya adalah sebesar 2,5%.

Sehingga, jika Anda berpenghasilan Rp. 10 juta sebulan, maka besarnya zakat yang harus Anda keluarkan adalah:

(10jt*2.5%) = 250ribu ,dan dibayarkan setiap bulan.

 

Catatan Kaki:

[1] Didin Hafidhuddin. 2002. p.93.

[2] Yusuf Al-Qardhawi, fiqh zakat, …….

[3] Didin Hafidhuddin. 2002. p. 97.

[Di ambil dari Buku: Zakat Tinjauan Fikih dan Teori Ekonomi Makro Ekonomi Modern]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *