Belajar Ke Luar Negeri dengan IPK S1 Kecil

Bagi sebagian orang, belajar ke luar negeri bukanlah hal yang sulit. Umumnya disebabkan orang tua yang sudah sangat mapan dari segi ekonomi. Sebagian yang lain harus bekerja dulu untuk masa tertentu, lalu menunggu izin/kelulusan dari atasannya di kantor dan beasiswa dari Negara untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Kelompok yang kedua ini biasanya juga mempersyaratkan skor minimum IPK semasa S1.

Lalu bagaimana dengan anak-anak dari keluarga yang secara ekonomi dan skor IPK nya hanya pas-pasan saja? Nah ini salah satu cerita dari anak-anak kategori ini.

Begitu tersadar akan keinginan saya untuk melanjutkan belajar ke luar negeri, ipk saya tidaklah cukup untuk beasiswa manapun… hanya 2.** nearly 3, but nearly is nothing right? Plus, saya sudah menikah… sebagian besar lelaki dalam situasi seperti saya mungkin sudah berkata dalam dirinya “sudahlah… cari duit saja untuk nafkah keluarga…”. Tapi bagi saya saat itu, belajar dan nafkah itu bisa berjalan bersama sekiranya dapat bijaksana dalam mengatur nya…

Lalu mulai lah saya mencari-cari informasi bagaimana caranya bisa sekolah S2 ke luar negeri dengan ipk yang mungil begini… hampir semua informasi yang saya dapat mengatakan tidak bisa…hingga saya mendapatkan saran agar ambil dulu S2 di Indonesia, raih ipk se-tinggi-tinggi nya lalu apply S3 ke luar negeri…mudah-mudahan ipk di S2 nanti dapat menutupi si mungil ipk di S1…

Ok, saya tak ingin menyerah dengan keadaan. Apa yang sudah terjadi adalah sejarah untuk di ambil pelajaran nya. Sedangkan apa yang akan terjadi di masa depan adalah misteri dan jangan biarkan orang lain menuliskan nya untuk kita, betul kan? Maka saya berusaha untuk menulis sejarah masa depan saya sendiri… kalo memang tak bisa S2 di luar negeri, mudah-mudahan bisa S3 di luar negeri…

Pada saat itu, saya sudah mulai bekerja di STEI Tazkia sebagai pengajar mata kuliah Statistika dan Matematika untuk Bisnis yang kemudian membuat saya membaca buku-buku tentang ekonomi dan keuangan Islam setiap kali menunggu kelas di perpustakaan nya. Sehingga munculah minat saya kepada ekonomi dan keuangan syariah.

Akhirnya masuklah saya di program S2 Magister Hukum (Mu’amalah) Islam di UIKA Bogor dengan konsentrasi ekonomi dan keuangan Islam. Alhamdulillah… saya adalah pencilan di kelas, hanya saya seorang yang bukan alumni program S1 syariah, kawan sekelas adalah alumni S1 syariah dari Al-Azhar Mesir, Maroko, IIUM dan tentu saja Indonesia.

Saya mencoba belajar mati-matian… sering bergadang sambil menghafal apa saja yang harus di hafal untuk menghadapi exam yang semuanya essay… sebab saya merasa (dengan logika) inilah jalan terakhir saya untuk bisa sekolah ke luar negeri… kalo gagal, maka musnahlah semua mimpi… sungguh 2 tahun yang penuh kenangan…

Alhamdulillah, Allah SWT takdirkan saya untuk menjadi lulusan terbaik program S2 ini… bersyukur kepada Allah SWT… saya telah merasakan betul makna man jadda wa jada … kesungguhan pastilah membuahkan hasil… meskipun harus banting setir dari kehidupan bergelimang angka di Statistika IPB dengan kehidupan bergelimang huruf dan hafalan di S2 Hukum (Mu’amalah) Islam ternyata bisa juga berjaya… di program S2 ini, selain Prof Dr KH Didin Hafidhuddin dan Dr Ibdalsyah, ada para ustadz seperti Rosul min Kalimantan Isa, Edi Chandra, Khairun Naim dan beberapa lagi orang yang saya rasakan amat besar jasanya akan kesuksesan saya di S2 ini, namun mohon maaf tidak bisa di sebutkan satu persatu…

Bulan Juni 2006 adalah pertama kali saya ke luar negeri… berkat jasa Dr Sanrego (Riyadh), mentor pertama saya dalam penulisan ilmiah berbahasa Inggris, paper kami di terima oleh INCEIF-Malaysia untuk di presentasikan di Kuala Lumpur… di sanalah Allah SWT pertemukan saya dengan 2 individu yang memiliki jasa besar dalam memotivasi saya hingga saat ini, yaitu Prof Dato Dr Jamil Osman (IIUM) dan Prof Dr M Kabir Hassan (New Orleans Univ.). Dato’ Jamil, dengan bantuan pendekatan dari Dr Sanrego, mengatakan saya bisa sambung sekolah di IIUM dan Prof M Kabir Hassan bilang paper yang saya presentasikan memiliki kualitas untuk di publikasikan sebagai artikel di jurnal inernasional dan dia (hingga saat ini) selalu memberikan rekomendasi untuk saya kemana pun saya ingin pergi…

Sekembalinya saya ke Bogor, segera saya mengurus pendaftaran S3 di IIUM (dengan transkrip IPK di S2 Hukum (mu’amalah) Islam UIKA) di jurusan Ekonomi dengan bantuan Dr Irfan S Beik dan offer letter nya di bawakan oleh Dr Syafii Antonio kepada saya. Setelah di buka amplop nya, Ma-syaa Allah Tabarakallah… yang saya terima adalah offer letter untuk program Master of Economics… kebahagiaan yang tak dapat terungkapkan dengan kata-kata…

Inilah takdir Allah yang di luar nalar manusia… rahasia yang akan di buka-Nya kepada sesiapa yang di kehendaki-Nya… bagi yang tak kenal menyerah dalam berusaha…

Tahun 2007 saya mulai kuliah master di IIUM dan sambil kuliah, saya bekerja sebagai Asisten penelitian dan berdagang makanan kecil-kecilan untuk membiayai hidup kami. Alhamdulillah, tantangan ini hanyalah menambah semangat saya untuk segera lulus hingga akhirnya saya lulus S2 dalam 2.5 tahun (sebab ambil kelas Bahasa Inggris 1 semester dan pre-requisite subjects dg anak S1 selama 1 semester di sebabkan saya belum ada background kuat dalam ekonomi) dan S3 dalam 2 tahun.

Dari IIUM bermulalah petualangan akademik saya… hingga persaudaraan dengan individu-individu yang namanya kini sangat besar baik dalam skala nasional maupun internasional…

*Pesan moral, khususnya bagi adik-adik yang IPK kurang dari 3 (tapi jangan kecil2 banget ya hehe..) namun bersemangat untuk sekolah ke luar negeri… jangan menyerah… kalo tak dapat beasiswa, sekolah dulu S2 di Indonesia, dapatkan IPK se-tinggi kamu bisa, lalu coba apply lagi ke luar negeri… mudah-mudahan bisa sukses!

Comments

  1. Ahmad Fadhil

    Terimakasih pak atas sedikit sharing cerita nya. Sangat menginspirasi dan membuat saya kembali bersemangat untuk terus merancang mimpi dan cita-cita sekaligus pantang menyerah untuk terus berusaha mewujudkannya.

    Semangat dan kebaikan memang menular. Semoga bapak selalu d beri kemudahan dan keberkahan dalam segala urusannya.

    Di tunggu pak sharing ilmu, semangat dan tulisan yg lainnya.

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *